Kita semua tahu bahwa sebuah data itu penting, terlebih lagi data penelitian. Di dalamnya memuat banyak analisis substansi penting serta bukti dari fakta-fakta yang ada di lapangan. Namun, apa jadinya bila data itu hanya berupa kumpulan lembaran kertas berisi rangkaian kata dan angka yang tersimpan rapi dalam lemari? Apakah akan sama bergunanya seperti sebuah bukti dalam persidangan kasus kejahatan di pengadilan? Tentu tidak. Sebuah data penelitian baru akan sangat bermanfaat jika diketahui khalayak umum—atau dengan kata lain, terpublikasi—sehingga dapat digunakan sebagai acuan penentu kebijakan maupun rujukan untuk penelitian serupa.
Itulah yang terjadi pada data-data penelitian skripsi keanekaragaman hayati di Indonesia. Banyak dari skripsi tersebut tidak terpublikasi dan hanya menumpuk di lemari-lemari perpustakaan, atau tersimpan aman dalam repositori universitas yang aksesnya terbatas. Berdasarkan penelitian singkat yang dilakukan Tambora terhadap repositori tugas akhir dari 36 universitas di Indonesia, sebagian besar skripsi ini sulit diakses publik. Setidaknya 18 repositori hanya dapat diakses dari dalam perpustakaan, atau bahkan hanya bisa diakses oleh civitas akademika universitas tersebut.
Minimnya publikasi dan terbatasnya akses repositori menyulitkan banyak pihak. Katakanlah, seorang mahasiswi hendak melakukan penelitian keanekaragaman hayati. Ia kebingungan mencari tahu metode yang sesuai untuk penelitiannya. Lalu, ia menelusuri internet dan menemukan publikasi serupa. Sayangnya, publikasi tersebut tidak bisa diunduh, dan untuk mendapatkannya ia harus mendatangi perpustakaan yang letaknya jauh di pulau seberang dari tempat tinggalnya.
Ketakutan akan plagiasi membuat sebagian besar universitas enggan memberikan akses penuh terhadap skripsi, tesis, atau disertasi mahasiswa. Padahal, masyarakat umum berhak mengetahui hasil-hasil penelitian putra-putri Indonesia dengan cara yang mudah dan sistematis. Karena itu, Tambora berupaya “mengiklankan” data penelitian biodiversitas ini dalam sebuah portal web yang mudah diakses dan terintegrasi bernama Biodiverskripsi.
Dengan tujuan meningkatkan aksesibilitas penelitian keanekaragaman hayati lokal di Indonesia, Biodiverskripsi mengumpulkan data pemantauan ekologis dari skripsi mahasiswa dalam sebuah platform berkelanjutan untuk mendukung penelitian sekaligus kebijakan nasional mengenai konservasi. Platform ini akan memuat data kemunculan spesies dari berbagai lokasi di Indonesia berdasarkan skripsi, tesis, dan disertasi yang dipublikasikan antara tahun 2000–2017 oleh setidaknya lima universitas di Indonesia. Dengan begitu, mahasiswi dari pulau seberang tersebut tidak perlu lagi repot-repot mengunjungi perpustakaan universitas hanya untuk mendapatkan data referensi skripsinya.
Data ini akan dipublikasikan dalam bahasa Inggris dan disambungkan dengan repositori universitas terkait. Dengan begitu, siapa pun yang ingin mengetahui lebih lanjut konteks data dapat menghubungi universitas bersangkutan. Harapannya, data yang terkumpul nantinya akan menunjukkan lokasi-lokasi di Indonesia yang sudah banyak diteliti untuk taksa tertentu secara integratif, beserta instansi peneliti yang melakukannya, sehingga memudahkan kolaborasi dan mendorong penelitian yang lebih besar.
Nantinya, data ini akan dibagikan ke InaBIF (Indonesian Biodiversity Information Facility), pangkalan data keanekaragaman hayati nasional yang dikelola oleh Pusat Penelitian Biologi LIPI, agar dapat dikelola secara nasional. InaBIF sendiri merupakan salah satu nodus dari GBIF (Global Biodiversity Information Facility), lembaga internasional yang mengelola seluruh data saintifik biodiversitas spesies di seluruh dunia. Melalui GBIF, data tersebut dapat diakses secara terbuka melalui internet, sehingga semakin bernilai bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan keberlangsungan upaya pelestarian keanekaragaman hayati global.
Untuk melengkapi data biodiversitas dunia, khususnya di kawasan Asia, GBIF meluncurkan program BIFA (Biodiversity Fund for Asia), yaitu dana hibah bagi lembaga-lembaga yang berupaya mempublikasikan data biodiversitas melalui portal GBIF. Proyek-proyek yang berhasil menerima pendanaan umumnya berfokus pada peningkatan ketersediaan data terkait keberadaan spesies hewan maupun tumbuhan lokal. Hingga kini, delapan proyek dari tujuh negara di Asia telah mendapatkan dana hibah tersebut, termasuk proyek Biodiverskripsi yang digarap oleh Tambora Muda Indonesia.
Tambora juga mengajak para konservasionis muda Indonesia untuk turut serta dalam proyek ini sebagai enumerator data. Ingin berkontribusi bagi konservasi Indonesia? Kami membuka kesempatan melalui inisiatif bersama GBIF Indonesia dan InaBIF, yang diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan sekaligus popularitas data keanekaragaman hayati untuk mendukung penelitian serta kebutuhan kebijakan konservasi di masa mendatang.
📌 Catatan Tambahan
-
Lowongan Relawan: Informasi pendaftaran enumerator data dalam proyek Biodiverskripsi dapat diakses melalui tautan resmi Tambora Muda Indonesia.
- Update: Jawaban pertanyaan umum seputar relawan Biodiverskripsi telah dipublikasikan dan dapat dibaca di laman terkait.


